ASSALAMUALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH...."IMPOSSBLE IS NOTHINGS BECAUSE OF GUSTI ALLAH MBOTEN NATE SARE"

. InstaForex Global Digital Pay

NKRI HARGA MATI !!!!!

Thursday, April 16, 2009

Sociedad Anónima Deportiva (S.A.D.) Indonesia U-17



Massulist (16 april 2009),

Inilah kawah Candra Dimuka bagi anak-anak bangsa yang terpilih untuk menimba ilmu sepak bola ke Negara Uruguay. Di sini mereka dilatih dan ditempa untuk menjadi pemain sepak bola yang handal dan dapat berkiprah di kancah eropa nantinya. Disini mereka dilatih dengan metode modern dan berstandar internasional.



Walau banyak pihak yang mengkritik program ini tapi program ini tetap dijalankan oleh PSSI bahkan sudah hampir dua tahun dari rencananya akan berlangsung empat tahun. Kalo banyak orang mengkritik berarti saya adalah salah satu dari sedikit orang yang memuji program ini. Sebagian besar orang mengkritik program ini karena berkaca dari kegagalan dari program-program sejenis sebelumnya yang pernah digulirkan PSSI baik Primavera maupun bareti dan termasuk program pengiriman pemain muda untuk berlatih di Belanda. Walau dianggap gagal untuk menjadikan Timnas Indonesia berbicara di pentas internasional seperti yang direncanakan tapi kita sebagai pecinta sebakbola Indonesia tidak bisa menutup mata bahwa program-program sejenis telah menghasilkan pemain-pemain yang selalu menjadi tulang punggung Timnas Indonesia dan Liga Indonesia sendiri. Lihat saja Kurniawan, Indryanto sampai sekarang masih beredar di ISL. Sedangkan Bambang Pamungkas, Ponaryo astaman masih menjadi tumpuan Timnas Sampai dengan sekarang. Sedangkan hasil dari tim yang dikirim ke Belanda sekarang malah hampir semua memperkuat tim-tim kuat di ISL, lihat saja Arif Suyono, Eka ramdani, Boas Salosa, Ricardo salampesy, M roby merupakan squad andalan Timnas Senior. Dan sisanya masuk dalam Squad U-23.

Jika kita ingin meningkatkan kualitas Timnas kita, memang tidak bisa hanya mengandalkan program-program seperti ini untuk kedepan tetapi harus meningkatkan kualitas kompetisi di dalam negeri baik dari tingkat senior hingga ketingkat junior. Sehingga kita akan mendapatkan sumberdaya yang berlimpah untuk Timnas Senior.

Sekarang saya pribadi sudah bisa melihat pembangunan kearah itu. Standar ISL sudah mulai ditingkatkan baik sejara Liga, infrastruktur pendukung yang meliputi stadion, pelatik wasit dan lain sebagainya dan berita terakhir adalah akan bergulirnya Liga Pendidikan Indonesia (LPI) pada tanggal 2 Mei 2009. Yang pembukaannya ini bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional yang memang jatuh pada tanggal 2 Mei. Memang perubahan itu masih jauh dari expectasi public yang menginginkan Sepak bola Indonesia bisa berbicara di pentas Internasional. Tapi saya masih yakin jika program-program tersebut baik program dalm negeri maupun luar negeri dijalankan secara konsisten InsyaAllah dalam 10 tahun kedepan kita akan bisa melihat Timnas Indonesia berjaya dipentas Internasional.

SAD Indonesia sekarang ini harusnya dijadikan Bench Mark dalam pengembangan kompetisi Junior di Indonesia baik secara kompetisi, system pelatihan dan pelatih dan system pendukungnya. Kita bisa melihat betapa tertinggalnya system pelatihan tim junior Indonesia dari system kepelatihan yang bergulir di Negara-negara dengan persepakbolaan maju di dunia. Pada awal pengiriman SAD Indonesia hampir tidak bisa mengikuti kompetisi karena terbentur permasalahan kesehatan khususnya kesehatan gigi pemain. Padahal nota bene mereka adalah pemain-pemain terbaik yang ada di negeri ini. Dengan fakta seperti itu kita terutama PSSI sebagai otorita tertingnggi sepakbola dinegeri ini harus bisa mengambil pelajaran dari hal itu untuk meningkatkan kualitas persepakbolaan Indonesia.
Jika semua itu bisa berjalan dengan baik.dalam 10 tahun kedepan kita akan bisa melihat Timnas Indonesia berjaya dipentas Internasional.
Good luck Sociedad Anónima Deportiva (S.A.D.) Indonesia U-17. dikakimu kami menggantungkan harapan persepakbolaan negeri ini. Terus berjuang, jangan pernah menyerah harumkanlah nama bangsamu, bangsa Indonesia yang kita banggakan. Viva Indonesia.

Lanjutkan......

Wednesday, April 08, 2009

More Than Just "ABCD" To Stop HIV/AIDS

Massulist (8 april 2009),
Tulisan ini sebenarnya berawal dari tulisan yang saya rasa agak janggal yang saya baca minggu kemarin. Kebetulan dua minggu kemaren saya sering pulang pergi pekanbaru – bengkalis menggunakan speed boath. Kebetulan didepan kursi saya terdapat stiker yang bunyinya kurang lebih seperti ini:

Stop HIV/AIDS dengan:
A = Abstinensia atau tak melakukan hubungan seks
B = Be faithful atau saling setia,
C = Condom atau mencegah dengan kondom, dan
D = Drugs atau jangan memakai narkoba.

Awalnya sih agak kaget dan pengen tertawa karena saat membaca ABCD saya teringat dengan istilah anak-anak sekarang (Aduh Bo’ Cape Dech). Tapi karena posisi stiker itu tepat didepan saya jadi terpaksa tanpa sadar tulisan itu sering terbaca oleh saya. Setelah sampai hotel saya semakin terngiang dan rasa penasaran saya dengan tulisan tersebut karena kata-katanya yang janggal menurut saya. Sekilas tulisan tersebut biasa saja dan benar adanya. Bagaimana tidak bila kita tak melakukan hubungan seks atau saling setia dengan pasangan kita atau memakai Condom atau mencegah dengan kondom dan tidak memakai narkoba kita akan relatif jauh dari resiko terjangkit virus HIV/AIDS. Tapi bukan itu intinya karena bagi orang awam mungkinkah hal tersebut dapat dilakukan semua. Bagaimana tidak melakukan hubungan seks bila kita sudah berkeluarga? Terus apakah menjamin kalo kita tidak memakai narkoba akan terbebas dari HIV/AIDS? Padahal penularan HIV/AIDS pada pemakai narkoba itu dari penggunaan jarum suntik yang bergantian dengan sesama pemakai yang sudah terkena HIV/AIDS. Disitulah letak kejanggalan tulisan tersebut.





Karena rasa penasaran saya tersebut kemudian saya mencoba browsing di internet mengenai tulisan tersebut untuk mencari penjelasan yang lebih masuk akal bag saya. Kemudian saya langsung aja nanya ma mbah paman google dengan mengetik “ABCD stop HIV/AIDS”, tanpa ku duga terdapat 22.900 web yang menyedakan bahasan tersebut membuat saya semakin penasaran dan merasa bodoh karena baru tau hal itu. Mulai kubuka satu persatu web yang masuk top 10 dari paman google dan sampailah pada penjelasan yang agak masuk akal bagi saya tentang tulsan di atas. Penjelasannya kurang lebh seperti ini:

“ABCD: Abstain from sex bagi remaja dan belum menikah, Be faithful : setia terhadap pasangan, Condom : selalu menggunakan kondom, dan Don't use a hypodermic needle : tidak menggunakan alat suntik bekas pengidap HIV/AIDS.”

Setelah saya mendapatkan penjelasan diatas yang menurut saya masuk akal dan mudah diaplkaskan dalam kehidupan sehari-hari bukannya membuat saya jadi puas tapi malah semakin penasaran lagi. Kenapa? Sebenarnya yang membuat saya penasaran adalah penjelasan itu saya peroleh dari internet. Bayangkan kebingungan ini terjadi pada orang-orang yang tidak buka nternet karena tidak pernah atau yang tidak sempat. Hal ini bisa membuat pemahaman tentang penanggulangan HIV/AIDS jadi salah dan jeleknya lagi akan muncul golongan orang yang tidak mau menikah karena takut bisa tertular HIV/AIDS.

Tidak hanya sampai disini rasa penasaran saya terhadap stiker di speed boath yang aku lihat tersebut di atas. Coba kita lihat sekali stiker tersebut :

Stop HIV/AIDS dengan:
A = Abstinensia atau tak melakukan hubungan seks
B = Be faithful atau saling setia,
C = Condom atau mencegah dengan kondom, dan
D = Drugs atau jangan memakai narkoba.

Dari tulisan kita bisa mengambil pokok permasalah dari penyebaran virus HIV/AIDS, yaitu Perilaku seks bebas, tidak setia dengan pasangan serta penggunaan narkoba. Menurut saya anjuran ataupun petunjuk dalam stiker tersebut tidak akan mungkin bisa mengurangi ataupun mencegah penyebaran virus HIV/AIDS secara singnfikan. Jadi menurut saya iklan yang terdapat pada stiker di atas belum tepat sasaran karena masih tingginya pertumbuhan virus HIV/AIDS di indonesia. Seharusnya kita bersama termasuk pemerintah sebagai otoritas tertinggi negara, LSM sebagai organsasi yang berhubungan langsung di lapangan serta masayarakat pada khususnya sebagai target harus mencari akar permasalahan penyebaran virus tersebut. Kalo kita kaji ulang penyebabnya kita harusnya mencari akar dari penyebaran virus tersebut. Bukannya menghentikan ditengah jalan melainkan melainkan mencegah virus itu berjalan.

Saya mencoba memberikan analogi sebagai berikut ”Seseorang mencoba mengurangi angin pada sebuah bola disaat bola itu sedang berputar kencang” mestinya bola itu dkurangi anginnya saat bola tersebut belum ditendang. Atau “ seorang kiper berusaha menggagalkan sebuah tendangan penalti” mestinya tidak melakukan suatu pelanggaran yang bisa menyebabkan penalti karena sedikit sekali peluang usaha tersebut akan berhasil. Hal ini pula berlaku pada stiker diatas. Stiker di atas bila diartikan secara keseluruhan artinya kurang lebih sebagai berikut:

HIV/AIDS dapat dicegah dengan
- tidak melakukan perilaku seks bebas, bersikap setia pada pasangan. Tapi jika tidak mampu melakukannya gunakanlah kondom
- Jangan menggunakan narkoba jens suntik secara bergantian dengan penderita HIV/AIDS.

Dari arti diatas terdapat celah dan kesempatan untuk menyebarnya virus HIV/AIDS, seharusnya celah itu ditiadakan. Sehingga virus itu benar-benar tidak sempat atau jalan untuk menyebar dan bla itu bisa dilakukan pada periode tertentu vrus itu akan hilang dengan sendirinya.

Secara teori negara Indonesia adalah merupakan negara yang berdasarkan agama yang tertulis pada sila pertama Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dan saya yakin setiap agama melarang perilaku-perilaku yang dapat menyebarkan virus HIV/AIDS di atas. Mestinya negara yang berketuhanan memiliki cara yang lebih baik dan efektif dalam usaha mencegah penyebaran virus HIV/AIDS. Apakah cara tersebut? Mestinya negara kita tidak mengadopsi mentah-mentah stker diatas misalkan menambahkan unsur keagamaan yiatu:

“ Stop HIV/AIDS dengan Iman dan Tagwa ”
Diatas merupakan salah satu contoh saja karena menurut saya iklan pada pada stiker yang saya lihat pertama kali terkesan sekuler yang tidak mengindahkan unsur religius yang terbukti tidak berpengaruh besar pada usaha pencegahan virus HIV/AIDS.
Indonesia sebagai negara yang berketuhanan mestinya punya cara sendiri yang lebih efektif dan bisa dipakai contoh untuk negara lain bukannya mengadopsi mentah-mentah sebuah program yang bagi negara pembuatnya gagal dan tidak tepat sasaran.



Lanjutkan......