Massulist (06 Desember 2010)
Bukannya saya tidak nasionalis, tapi memang kata-kata tersebut yang memenuhi benak saya selama ini.
Ketika laga pertama Suzuki AFF 2010 yang mempertemukan Indonesia vs Malaysia stadion GBK dipenuhidengan Suporter Timnas yang hamper semuanya mengelorakan semangat “GANYANG MALAYSIA” bukanlah tanpa alasan. Dan ketika hasil akhir menunjukkan 5-1 untuk Indonesia membuat semua dada supporter dan masyarakat Indonesia penuh dengan rasa kepuasan seolah mereka mengesampingkan bahwa pertandingan malam tersebut barulah pertandingan pertama dari penyisihan Suzuki AFF 2010. Konflik politik yang yang terjadi antara kedua negaralah yang selama ini mebuat suasana permusuhan antara Indonesia dan Malaysia.
Sebenarnya konfrontasi Indonesia – Malaysia sudah dimulai sejak era 60 an. Cerita itu diawali Pada 1961, Kalimantan dibagi menjadi empat administrasi. Kalimantan, sebuah provinsi di Indonesia, terletak di selatan Kalimantan. Di utara adalah Kerajaan Brunei dan dua koloni Inggris; Sarawak dan Borneo Utara, kemudian dinamakan Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia Tenggara, Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung Malaya, Federasi Malaya dengan membentuk Federasi Malaysia.
Rencana ini ditentang oleh Pemerintahan Indonesia; Presiden Soekarno berpendapat bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia. Filipina juga membuat klaim atas Sabah, dengan alasan daerah itu memiliki hubungan sejarah dengan Filipina melalui Kesultanan Sulu.
Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, ketika para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul Rahman—Perdana Menteri Malaysia saat itu—dan memaksanya untuk menginjak Garuda, amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak.
Demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur yang berlangsung tanggal 17 September 1963, berlaku ketika para demonstran yang sedang memuncak marah terhadap Presiden Sukarno yang melancarkan konfrontasi terhadap Malaysiaan juga kerana serangan pasukan militer tidak resmi Indonesia terhadap Malaysia. Ini berikutan pengumuman Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia pada 20 Januari 1963. Selain itu pencerobohan sukarelawan Indonesia (sepertinya pasukan militer tidak resmi) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase pada 12 April berikutnya.
Soekarno yang murka karena hal itu mengutuk tindakan demonstrasi anti-Indonesian yang menginjak-injak lambang negara Indonesia dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama Ganyang Malaysia. Soekarno memproklamirkan gerakan Ganyang Malaysia melalui pidato beliau yang amat bersejarah, berikut ini:
"Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu
Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.
Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.
Yoo...ayoo... kita... Ganjang...
Ganjang... Malaysia
Ganjang... Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!
Soekarno."
Itulah pidato Sukarno saat itu tapi di era modern ini juga konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia juga tidak berhenti begitu saja. Sejak Sipadan dan Ligitan lepas dari NKRI hingga klaim-klaim budaya kita oleh Malaysia membuat bangsa bertambah murka pada Negara jiran yang katanya saudara muda kita tersebut hingga gelora semangat GANYANG MALAYSIA semakin keras terdengar.
Tapi dibalik itu semua saya mencoba mengambil sisi positif dari semua kejadian tersebut. Saya ambil beberapa contoh.
Ketika kita bersitegang dengan Malaysia di Ambalat. Hal itu menyadarkan bangsa dan pemerintahan kita untuk melengkapi dan memperbaharui ALUTSISTA TNI. Tanpa kejadian tersebut Pemerintah kita pasti masih enggan untuk melakukan hal tersebut. Dan karena kejadian tersebut pulalah kini kita sedikit demi sedikit mulai memperbaharui dan modernisasi ALUTSISTA kita dan bahkan kemandirian ALUTSISTA sudah dilakukan dengan hasil yang cukup membanggakan bangsa Indonesia. Liat saja PINDAD sudah bisa membuat panser ANOA yang kini sudah dipercaya oleh PBB bertugas di Lebanon, dan dalam waktu dekat PINDAD juga akan membuat Paser canon dan Panser Rudal. Rudal R-Han 122 yang merupakan rudal buatan dalam negeri juga sudah diujicoba nopember lalu dengan hasil yang memuaskan dan segera diproduksi. Serta kapal-kapal perang buatan dalam negeri yang paling baru adalah PKR 105 adalah sebuah Kapal Perusak Kawal Rudal yang masih dalam pembangunan di PT PAL. Untuk Angkatan Udara juga tidak kalah hebatnya, Indonesia sekarang sedang berkerjasama dengan korea selatan untuk produksi pesawat KF-X, sebuah pesawat generasi 4.5 yang kekuatannya lebih hebat dari F-16. Itu adalah beberapa contoh saja karena masih banyak lagi.
Dan ketika Malaysia mulai mengeklaim budaya-budaya kita semisal, pengakuan lagu rasa sayange, batik, reog ponorogo, angklung dan lain-lain, hal itu berakibat bangkitnya rasa nasionalisme kita sebagai bangsa. Buktinya ketika batik diklaim oleh mereka dalam waktu yang tidak begitu lama masyarakat kita baik tua, muda, anak-anak mulai terbuka kesadarannya dan tanpa malu-malu lagi untuk berbusana batik hingga akhirnya batik menjadi seragam resmi pada hari jumat.
Dari beberapa contoh diatas saja sebenarnya kita bisa melihat dan kita harus bisa mengucapkan kata terima kasih pada Malaysia. Sebagai saudara muda (itupun kalo kita mau mengakuinya… hehehehe), mereka memang kadang membuat jengkel dan marah kakaknya. Tapi bagaimanapun juga namanya kaka kita harus bisa memaafkan dan berterima kasih pada adek kita walaupun cara mereka kurang berkenan dihati kita.
Sebagai kakak yang baik saya mgucapkan “TERIMA KASIH MALAYSIA”. Sebagai adek yang kurang ajar kamu telah menyadarkan kami kaka-kakakmu yang terlena oleh hiruk pikuk dunia tentang arti nasinalisme dan NKRI. Kini kami sadar NKRI adalah Harga Mati, kalian boleh bercanda dengan kami tapi kakakmu kini sudah beda dan pasti terus akan berbeda dengan kalian."TERIMA KASIH ADIKKU SAYANG SAYA BERHARAP KAMU CEPAT DEWASA DAN JANGAN SUKA BERCANDA YANG BERLEBIHAN DENGAN KAKAKMU INI"



2 comments:
ra sudi dadi dulure malaysia :P
get GUQOkIgd [URL=http://www.cheapdesigner--handbags.weebly.com/]cheap designer handbags[/URL] and check coupon code available WZTyHbhD [URL=http://www.cheapdesigner--handbags.weebly.com/ ] http://www.cheapdesigner--handbags.weebly.com/ [/URL]
Post a Comment