ASSALAMUALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH...."IMPOSSBLE IS NOTHINGS BECAUSE OF GUSTI ALLAH MBOTEN NATE SARE"

.

NKRI HARGA MATI !!!!!

Tuesday, July 07, 2009

Penularan, Bukan Pewarisan

Tulisan ini saya ambil dari catatan Dahlan Iskan. Walau saya masih jauh dari seperti beliau tapi saya ingin seperti beliau dan saya mengagumi pemikiran beliau. saya berharap tulisan belia ini bisa berguna untuk orang lain...Amin....

Catatan : Dahlan Iskan

Bagaimana Jawa Pos ke depan? Seperti otomatis, segala kemampuan manajemen yang selama 25 tahun ini saya terapkan di Jawa Pos sudah tertular dengan sendirinya kepada generasi baru. Bukan hanya di Jawa Pos, tapi juga ke seluruh grupnya. Sudah puluhan orang yang awalnya berkarir sebagai wartawan kini menjadi direktur utama atau direktur di anak-anak perusahaan grup Jawa Pos. Merekalah yang kini menularkan lagi semua itu kepada generasi yang lebih muda.

Puluhan orang itu, ratusan orang itu, kini sudah berkiprah di lingkungan apa yang kemudian kita dengar sebagai Jawa Pos News Network (JPNN).

Ini bukan soal waris-mewariskan, tapi soal tular-menularkan. Saya percaya entrepreneurship seperti itu tidak bisa diwariskan, tapi sangat bisa ditularkan.

Kalau kata "warisan" yang dipakai, tentu konotasinya pasif. Ada pihak yang mewariskan dan anak pihak yang sengaja diwarisi. Di sini seolah juga ada subjektivitas. Seolah pihak yang akan mewariskan mempunyai hak untuk menunjuk orang tertentu atau pihak tertentu yang harus menerima warisan itu.

Saya berkesimpulan entrepreneurship tidak bisa diwariskan seperti itu. Orang yang merasa bahwa entrepreneurship bisa diwariskan hanya akan menemukan warisannya berantakan. Tapi, saya percaya entrepreneurship sangat bisa ditularkan. Pewarisan dan penularan sangatlah tidak sama. Berbeda dengan warisan, dalam proses penularan harus ada unsur yang menulari dan unsur yang ditulari. Hasilnya belum tentu terjadi proses penularan. Mungkin bisa terjadi penularan, mungkin juga tidak.

Dalam proses waris-mewariskan terkesan bisa dilakukan secara mendadak, tiba-tiba, dan tanpa syarat. Dalam proses penularan tidak mungkin terjadi seperti itu. Harus ada proses yang panjang. Kadang sangat lama. Dalam proses ini bisa saja terjadi "penolakan" dari yang akan ditulari. Atau, orang yang akan ditulari ternyata sudah punya "kekebalan" tubuh sehingga meski dia sebenarnya sudah mau ditulari, penularan itu tidak sampai terjadi.

Bisa juga penularan itu gagal karena orang yang sedang ditulari tiba-tiba menjauh. Atau merasa bosan karena terlalu lamanya proses itu. Atau mendapat "suntikan" anti-penularan. "Suntikan" itu bisa berupa godaan finansial, bisa juga karena emosi. Misalnya, ketika tiba-tiba saja mendapat tawaran yang lebih menggiurkan di tempat lain.

Sebaliknya, yang akan menulari pun bisa-bisa berubah sikap. Misalnya, ternyata dia merasa bahwa pihak yang ditulari sangat "kebal virus".

Bahwa anak-anak pengusaha lebih banyak menjadi pengusaha, saya yakin bukan karena "darah" pengusahanya, tapi karena dalam keluarga pengusaha proses penularan itu bisa berlangsung lebih intensif dan lebih lama. Yang juga tidak kalah penting, dalam proses yang panjang itu sangat jarang terjadi "penolakan". Mungkin karena pada awalnya anak selalu takut kepada bapak -sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang bukan anak sendiri. Sedangkan yang bukan anak-bapak akan punya perasaan lebih mandiri dari perasaan takut itu.

Kalau soal darah ini benar, tentu tidak akan ada anak pengusaha yang gagal menjadi pengusaha. Tapi, kenyataannya, begitu banyak kegagalan itu. Maka, meski ada hubungan anak-bapak, tetap saja ada kemungkinan terjadinya "penolakan" akan "virus" kepengusahaan itu.

Dalam proses waris-mewaris, bisa saja setelah terjadi peristiwa pewarisan, hubungan antara keduanya terputus. Tapi, dalam proses tular-menulari hubungan itu tidak akan pernah putus. Dia akan abadi sampai mati.

Kadang saya merenungkan apakah angkatan setelah saya bisa membuat proses tular-menulari ini berlangsung kepada generasi yang lebih muda. Saya pun lega. Saya melihat rasanya hal itu masih terus terjadi. Saya lihat ratusan anak muda yang awal karirnya juga wartawan kini sangat tertarik ke bidang bisnis di grup Jawa Pos. Setiap bertemu mereka saya tidak perlu lagi menulari. Saya lihat mereka sudah tertulari dengan sendirinya.

Setiap bertemu generasi baru yang hebat-hebat itu, yang umurnya 30-36 tahun itu, biasanya saya hanya mengatakan ini:

Kalian ini sudah akan bisa jadi apa saja. Karir yang lebih hebat sudah terbuka luas. Kemungkinan jadi pengusaha besar sudah di depan mata. Ujian-ujian yang terpenting sudah Anda lewati dengan sukses. Misalnya, ujian tentang membuat produk yang kompetitif, ujian memasarkan produk, ujian kejujuran di bidang keuangan, ujian berhemat, ujian membuat segala aspek perusahaan menjadi income center, dan bahkan ujian bagaimana mengelola konflik.

Dalam posisi Anda seperti itu, tinggal tiga hambatan saja yang akan bisa menghalangi Anda jadi orang besar. Dari tiga hambatan itu, dua datang dari dirinya sendiri. Yang ketiga merupakan suratan takdir.

Dua yang ditentukan oleh dirinya sendiri adalah: pertama, tergoda di bidang keuangan. Kedua, tergoda di bidang cinta hubungan wanita-pria.

Terlalu banyak kasus seseorang yang sudah lama teruji kejujurannya, suatu saat terpeleset juga di bidang keuangan. Istri sering juga menjadi penyebab datangnya godaan di bidang ini. Tapi, yang lebih sering adalah berubahnya gaya hidup. Tidak sedikit seseorang yang naik pangkat atau naik jabatan gaya hidupnya berubah drastis. Lama-lama penghasilannya tidak mencukupi untuk menopang gaya hidupnya yang baru. Lalu mulai terpikir untuk menyalahgunakan uang, atau paling sedikit main komisi.

Kalau sudah menyangkut uang, biarpun nilainya tidak berarti, tidak ada ampun lagi: harus diberhentikan! Ini sudah menyangkut persoalan yang paling hakiki dalam kehidupan sebuah perusahaan. Keuangan adalah "ummul-kitab"-nya perusahaan.

Bagaimana godaan wanita? Saya tidak pernah melarang teman-teman untuk tergoda. Namanya saja tergoda, kadang tidak direncanakan. Bahkan, kadang datang mendadak begitu saja. Apalagi kalau dasarnya benar-benar cinta. Saya sendiri pernah mengalaminya. Rasanya tidak ada gunanya untuk menasihati orang lain untuk "jangan pernah tergoda". Sebab, soal tergoda ini lebih sering bukan karena keinginan. Lebih sering karena naluri alamiah atau kemanusiaan. Atau apalah! Bahkan, saya pernah merenungkan, jangan-jangan ini juga bagian dari takdir. Bukankah cinta itu ciptaan Tuhan? Apakah kita akan menyalahkan Tuhan?

Maka yang sering saya kemukakan kepada mereka adalah: seandainya suatu saat godaan itu terjadi, yang terpenting adalah bagaimana harus bisa menyelesaikannya dengan baik. Orang boleh tergoda, tapi harus tahu bagaimana menyelesaikannya. Kadang diri sendiri sulit sekali menyadari itu. Menyadari saja sulit, apalagi menyelesaikannya. Kadang memang harus ada orang lain yang diminta membantu menyelesaikannya.

Saya sering mengatakan bahwa kemampuan menyelesaikan godaan itu juga bagian dari kemampuan manajemen. Bukankah kalau tidak lulus dalam menyelesaian godaan ini, berarti kemampuan manajemennya juga harus diragukan?

Faktor ketiga yang bisa menghalangi orang menuju puncak adalah takdir. Yakni, kalau tiba-tiba orang ditakdirkan sakit, atau kecelakaan mendadak. Meski tidak sampai mati, sakit yang fatal atau kecelakaan lalu lintas adalah bagian yang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Orang kalau sudah terkena sakit parah, sesemangat-semangat apa pun harus segera "tahu diri". Sebaiknya harus segera konsentrasi pada bagaimana mengusahakan untuk sembuh. Bukan ketika sakit masih memikirkan ambisi-ambisi yang besar. Saya sendiri ketika tiba-tiba diketahui sakit kanker liver empat tahun lalu, saya langsung sumeleh: saya berserah diri. Kalau memang sudah tiba saatnya saya harus mengakhiri segala bentuk pengabdian di dunia ini, saya terima dengan sepenuh hati. Orang ada batasnya. Barangkali batas saya sampai di situ. Lalu saya konsentrasi bagaimana untuk sembuh. Bukan agar bisa terus mengejar ambisi, tapi agar bisa kembali sehat saja. Sikap seperti itu menurut pendapat saya justru membuat pikiran lebih longgar. Dan, dengan pikiran longgar sakit pun tidak semakin parah.

Untuk sukses ternyata memang tidak gampang. Pintar saja tidak cukup. Juga tidak bisa hanya karena mewarisi. Harus terjadi proses penularan yang intensif. Dalam waktu yang panjang. Setelah tertular pun masih harus lolos dari tiga hal di atas. Padahal, banyak juga kasus proses penularan belum terjadi, sudah terkena salah satu dari ketiganya dan tidak ada jalan keluarnya.

Saya bersyukur, dulu Ciputra menularkannya dengan sukses kepada Eric Samola yang kebetulan bersedia ditulari. Lalu Samola menularkannya kepada saya dan saya juga menyiapkan diri untuk ditulari. Lebih bersyukur lagi, saya pun giliran punya kesempatan yang cukup untuk menularkan entrepreneurship kepada puluhan orang --dan puluhan orang itu menularkannya kepada ratusan orang.

Eric Samola di akhir hayatnya masih sempat melihat hasil penularan ke-entrepreneur-annya kepada saya. Dan dia kelihatan bangga.

Saya tahu orang seperti Ciputra juga masih mengamati saya dari dekat karena dia diberi umur sangat panjang sampai sekarang. Tapi, saya tidak pernah bertanya apakah saya menjadi orang seperti yang dia harapkan. Saya tentu sering bertemu Ciputra. Tapi, soal itu akan saya biarkan menjadi pertanyaan yang tidak akan pernah saya dengar jawabnya. (*)

Lanjutkan......

Monday, June 01, 2009

ULANG TAHUN "HAMEMAYU HAYUNING RATRI"



video

Lanjutkan......

Tuesday, May 19, 2009

TAKDIR (Part 2)

"Kebahagiaan adalah Bukan Apa Yang Kita Rasakan Hari Ini, Melainkan Apa Yang Akan Kita Rasakan Dari Kenyataan Hari Ini"

Massulist (19 Mei 2009)
Tidak semua kebahagiaan itu muncul dari sesuatu yang menyenangkan. Seperti yang pernah saya tulis mengenai “Takdir” beberapa waktu silam. Kebahagiaan itu merupakan muara dari sebuah kejadian-kejadian yang sebelumnya kita sesali. Walau tidak sedikit pula sebuah kebahagiaan itu adalah sebuah muara dari kejadian-kejadian yang menyenangkan. Tapi sebenarnya inti dari tulisan ini adalah pemahaman sebuah takdir yang merupakan sebuah proses kehidupan yang saling berhubungan yang akan bermuara pada suatu titik.

Pada suatu ketika ada seorang anak kecil sedang berkeluh kesah kepada neneknya. Dia bercerita bahwa hari ini adalah hari yang sangat tidak menyenangkan baginya.



"Bagaimana ceritanya cu kok bisa harimu tidak menyenangkan?"Tanya sang nenek. Bagaimana tidak nek jawab anak itu. Kemudian anak itu bercerita pada neneknya yang sedang memasak didapur. Dia mengatakan hari ini dia cuma diberi uang saku seribu rupiah oleh ibunya padahal biasanya ibunya memberikan uang saku sebesar lima ribu rupiah, dan ketika pulang sekolah dia membeli snack diwarung dekat sekolah. Ketika dalam perjalanan menuju rumahnya sambil menikmati snack yang baru dia beli tiba-tiba dia dikejar anjing tetangganya, kontan saja dia lari sekuatnya dengan snack yang masih belum habis tersebut. Saking takutnya anak itu sampai terjatuh dan snacknya jatuh berserakan dijalan sehingga tidak bisa dimakan lagi. Sambil memasak neneknya hanya tersenyum kepada cucunya mendengar cerita cucunya tersebut. Setelah selesai memasak nenek tersebut menyuruh cucunya untuk makan siang dulu. Sambil menunggui cucunya makan, nenek tersebut bertanya pada cucunya “apa rasa dari garam cu?”...”Asin”Jawab cucunya cepat. “Enakkah rasanya”neneknya bertanya lagi. Sambil menyantap makanannya anak itu cepat menjawab”ya tentu tidak enak nek”. “trus enakkah rasa bawang putih, bawang merah, dan bumbu-bumbu ini?”Neneknya bertanya lagi.”Tidak enak nek”Sahut anak itu. “kalau masakan nenek bagaimana?”tanya nenek kembali. “Wah enak sekali nek”jawab anak itu. Kemudian nenek itu mengatakan kepada cucunya bahwa masakan itu dibuat dari bahan dan bumbu-bumbu yang sebelumnya dikatakan anak itu tidak enak. Kemudian nenek itu menasehati cucunya bahwa semua yang dialami cucunya hari ini tidak selamanya tidak menyenangkan karena suatu saat akan menemukan sesuatu yang membahagiakan seperti halnya masakan yang dimakan cucunya yang katanya enak itu padahal dibuat dari hal-yang tidak enak.

Dari cerita diatas sebenarnya kita bisa mengambil suatu hikmah. Bahwa semua yang kita rasakan hari ini tidak menyenangkan itu belum merupakan titik akhir dari cerita hidup kita. Karena takdir kita akan terus berjalan dan hanya akan berakhir pada suatu saat yaitu saat kita bertemu dengan Tuhan.

Lanjutkan......

Saturday, May 16, 2009

New Era For Indonesian Country



Lanjutkan......

Monday, May 04, 2009

ADANYA KONTRA PRODUKSI SISTEM PILLEG DAN PILPRES TAHUN 2009

Massulist (1 Mei 2009),
Dibalik kelemahan-kelemahan pelaksanaan Pemilu Legeslatif yang baru dilaksanakan 9 april 2009 kemarin mulai besarnya golput yang mencapai angka kurang lebih 30%, ketidak beresan data DPT dan masih banyak lagi yang masih belum didapatkan suatu pencerahan, saya malah melihat adanya keanehan dalam sistem Pemilu yaitu adanya kontra produksi sistem Pemilu yang dianut negara kita sekarang ini. Kenapa saya mengatakan adanya kontra produksi?
Disini saya melihat adanya hal tersebut yang dilatar belakangi dua hal. Yaitu fungsi dari lembaga legeslatif dan lembaga eksekutif dalam hal ini Presiden dan wakil Presiden terhadap sistem Pemilihan Umum yang di anut oleh negara Indonesia.

Berdasarkan UU No.22 tahun 2003 secara umum DPR mempunyai fungsi sebagaimana lembaga perwakilan rakyat pada umumnya, yang memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan. Sedangkan Presiden sendiri memiliki fungsi presiden sebagai kepada negara (head of state), kepala pemerintahan (chief executive), panglima militer, dan kepala diplomat.
Jadi Secara garis besar DPR itu bertugas melakukan pengawasan terhadap kinerja Presiden dalam melaksanakan Undang-undang.

Dari fungsi di atas Lembaga Legeslatif dalam hal ini DPR adalah



suatu lembaga yang memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mengawasi kinerja Presiden dalam melaksanakan Undang-undang. Namun saya menilai dengan sistem Pemilu yang dianut Negara Indonesia sekarang ini fungsi tersebut akan susah dilaksanakan atau setidaknya akan tidak maksimal dalam pelaksanaannya. Mengapa bisa demikian?

Coba kita lihat undang-undang No. 42 tahun 2008 mengenai Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.

Pada Pasal 1 ayat 4 “Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden, selanjutnya disebut Pasangan Calon, adalah pasangan calon peserta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden yang diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik yang telah memenuhi persyaratan. “

Pasal 8 “Calon Presiden dan calon Wakil Presiden diusulkan dalam 1 (satu) pasangan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik.”

Pasal 9 “Pasangan Calon diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25% (dua puluh lima persen) dari suara sah nasional dalam Pemilu anggota DPR, sebelum pelaksanaan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.”

Pasal 13 “(1) Bakal Pasangan Calon didaftarkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik. (2) Pendaftaran bakal Pasangan Calon oleh Partai Politik ditandatangani oleh ketua umum atau sebutan lain dan sekretaris jenderal atau sebutan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

Sebenarnya keberadaan pasal ini sudah pernah diajukan ke MA untuk dilakukan uji materi namun MA telah menolak atas permintaan tersebut. Namun saya disini bukan untuk membahas hal tersebut namun untuk membuktikan pendapat saya mengenai kontra produksinya antara fungsi Lembaga Legeslatif dengan sistem PilPres yang kita anut sekarang.

Bila kita lihat bunyi Undang-undang diatas kita bisa menarik kesimpulan kurang lebih sebagai berikut.

“Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden adalah pasangan yang diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25% (dua puluh lima persen) dari suara sah nasional dalam Pemilu anggota DPR, sebelum pelaksanaan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden yang didaftarkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik dan pendaftaran bakal Pasangan Calon oleh Partai Politik ditandatangani oleh ketua umum atau sebutan lain dan sekretaris jenderal atau sebutan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

Dari kesimpulan di atas akan muncul pertanyaan yang kurang lebih seperti berikut “ Bagaimana DPR bisa melakukan pengawasan terhadap Pasangan Presiden dan Wapres nantinya bila Pasangan tersebut tersebut adalah orang yang dipilih oleh partai yang mendominasi parlemen?”

Yang sekarang terjadi adalah pemilu Legeslatif seolah-olah memunculkan “pemenang” yang berhak memegang kendali pemerintahan, padahal kalau menurut fungsi pemilu legeslatif adalah memunculkan orang-orang yang bisa mengontrol kinerja Presiden dalam menjalankan Undang-undang.

Memang benar dengan hanya 20% kursi DPR belum bisa menguasai suara parlemen, namun angka tersebut adalah angka minimal sehingga bukan tidak mungkin angka tersebut bisa lebih misalkan 50% + 1 untuk menguasai parlemen atau bahkan bisa koalisi bulat semua Partai yang ada di parlemen. Dengan kemungkinan fakta seperti tersebut, DPR nantinya hanya akan sekedar sebagai legitimator kebijakan-kebijakan Pemerintah yang bisa menjadikan sistem Demokrasi kita akan kembali kemasa-masa yang lampau yang menjadikan DPR hanya simbol Sebuah Demokrasi yang tidak berfungsi seperti yang telah dimandatkan Undang-undang.

Dengan fakta tersebut akan muncul lagi pertanyaan “Terus bagaimana sistem Pilpres seharusnya?”

Saya memiliki sebuah contoh yang mungkin cocok diterapkan walau mungkin masih jauh dari sempurna.

Mekanisme Pilpres bisa dijabarkan sebagai berikut :
1. Putaran 1
Pilpres dilaksanakan berbarengan dengan Pilleg agar bisa mereduksi kemungkinan adanya main mata antara Pasangan Capres dengan Partai-partai penghuni gedung DPR. Seperti halnya pemilihan DPD, syarat-syarat menjadi Pasangan Capres harus memiliki dukungan yang jumlahnya berbeda dengan syarat anggota DPD serta lebih bersifat dukungan Nasional.
2. Putaran 2
Setelah hasil dari putaran satu didapatkan bisa diambil 2,3, atau lebih pasangan capres yang memiliki suara terbanyak untuk mengikuti pemilikhan putaran berikutnya
3. Putaran 3
Putaran ini adalah putaran terakhir dalam pemelihan Presiden dan Wakil Presiden. Sama halnya sengan putaran kedua pada sistem pemilihan sekarang, yaitu bila belum ada Pasangan yang memperoleh suara 50% baru dikakukan Pemilu putaran ke 3.

Dengan mekanisme Pilpres seperti di atas diharapkan Lembaga Legeslaitf dan eksekutif dapat berjalan baik seperti tujuan lembaga itu dibentuk.
Namun dengan sistem tersebut pasti akan muncul suatu ketakutan bilamana DPR akan selalu berlaku oposisi terhadap pemerintah, hal ini pasti akan mengganggu stabilitas pemerintahan pada khususnya dan negara pada umumnya. Dengan sistem pemilihan seperti di atas hal itu memang sangat mungkin terjadi, tapi itulah konsekuensi dari sebuah demokrasi. Namun kita tidak boleh terlalu under estimate karena bila DPR dan Pemerintah bekerja sesuai tugas dan perannya masing-masing serta semua keputusan yang mereka ambil selalu berorientasi untuk kesejahteraan Rakyat dan Negara maka, semua kekhawatiran tersebut akan hilang dengan sendirinya. Jadi negara akan di isi oleh lembaga-lembaga yang bekerja sesuai pekerjaan masing-masing yang saling berhubungan satu sama lain yang akan menjadi sebuah sistem untuk satu tujuan. Yaitu kesejahteraan rakyat dan negara.

Dan yang menjadi hal paling utama, kita sebagai warga negara harus memiliki rasa nasioanlisme dan selalu melakukan tindakan-tindakan yang positif untuk kejayaan dan kemakmuran bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai ini. amin

Lanjutkan......

Thursday, April 16, 2009

Sociedad Anónima Deportiva (S.A.D.) Indonesia U-17



Massulist (16 april 2009),

Inilah kawah Candra Dimuka bagi anak-anak bangsa yang terpilih untuk menimba ilmu sepak bola ke Negara Uruguay. Di sini mereka dilatih dan ditempa untuk menjadi pemain sepak bola yang handal dan dapat berkiprah di kancah eropa nantinya. Disini mereka dilatih dengan metode modern dan berstandar internasional.



Walau banyak pihak yang mengkritik program ini tapi program ini tetap dijalankan oleh PSSI bahkan sudah hampir dua tahun dari rencananya akan berlangsung empat tahun. Kalo banyak orang mengkritik berarti saya adalah salah satu dari sedikit orang yang memuji program ini. Sebagian besar orang mengkritik program ini karena berkaca dari kegagalan dari program-program sejenis sebelumnya yang pernah digulirkan PSSI baik Primavera maupun bareti dan termasuk program pengiriman pemain muda untuk berlatih di Belanda. Walau dianggap gagal untuk menjadikan Timnas Indonesia berbicara di pentas internasional seperti yang direncanakan tapi kita sebagai pecinta sebakbola Indonesia tidak bisa menutup mata bahwa program-program sejenis telah menghasilkan pemain-pemain yang selalu menjadi tulang punggung Timnas Indonesia dan Liga Indonesia sendiri. Lihat saja Kurniawan, Indryanto sampai sekarang masih beredar di ISL. Sedangkan Bambang Pamungkas, Ponaryo astaman masih menjadi tumpuan Timnas Sampai dengan sekarang. Sedangkan hasil dari tim yang dikirim ke Belanda sekarang malah hampir semua memperkuat tim-tim kuat di ISL, lihat saja Arif Suyono, Eka ramdani, Boas Salosa, Ricardo salampesy, M roby merupakan squad andalan Timnas Senior. Dan sisanya masuk dalam Squad U-23.

Jika kita ingin meningkatkan kualitas Timnas kita, memang tidak bisa hanya mengandalkan program-program seperti ini untuk kedepan tetapi harus meningkatkan kualitas kompetisi di dalam negeri baik dari tingkat senior hingga ketingkat junior. Sehingga kita akan mendapatkan sumberdaya yang berlimpah untuk Timnas Senior.

Sekarang saya pribadi sudah bisa melihat pembangunan kearah itu. Standar ISL sudah mulai ditingkatkan baik sejara Liga, infrastruktur pendukung yang meliputi stadion, pelatik wasit dan lain sebagainya dan berita terakhir adalah akan bergulirnya Liga Pendidikan Indonesia (LPI) pada tanggal 2 Mei 2009. Yang pembukaannya ini bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional yang memang jatuh pada tanggal 2 Mei. Memang perubahan itu masih jauh dari expectasi public yang menginginkan Sepak bola Indonesia bisa berbicara di pentas Internasional. Tapi saya masih yakin jika program-program tersebut baik program dalm negeri maupun luar negeri dijalankan secara konsisten InsyaAllah dalam 10 tahun kedepan kita akan bisa melihat Timnas Indonesia berjaya dipentas Internasional.

SAD Indonesia sekarang ini harusnya dijadikan Bench Mark dalam pengembangan kompetisi Junior di Indonesia baik secara kompetisi, system pelatihan dan pelatih dan system pendukungnya. Kita bisa melihat betapa tertinggalnya system pelatihan tim junior Indonesia dari system kepelatihan yang bergulir di Negara-negara dengan persepakbolaan maju di dunia. Pada awal pengiriman SAD Indonesia hampir tidak bisa mengikuti kompetisi karena terbentur permasalahan kesehatan khususnya kesehatan gigi pemain. Padahal nota bene mereka adalah pemain-pemain terbaik yang ada di negeri ini. Dengan fakta seperti itu kita terutama PSSI sebagai otorita tertingnggi sepakbola dinegeri ini harus bisa mengambil pelajaran dari hal itu untuk meningkatkan kualitas persepakbolaan Indonesia.
Jika semua itu bisa berjalan dengan baik.dalam 10 tahun kedepan kita akan bisa melihat Timnas Indonesia berjaya dipentas Internasional.
Good luck Sociedad Anónima Deportiva (S.A.D.) Indonesia U-17. dikakimu kami menggantungkan harapan persepakbolaan negeri ini. Terus berjuang, jangan pernah menyerah harumkanlah nama bangsamu, bangsa Indonesia yang kita banggakan. Viva Indonesia.

Lanjutkan......

Wednesday, April 08, 2009

More Than Just "ABCD" To Stop HIV/AIDS

Massulist (8 april 2009),
Tulisan ini sebenarnya berawal dari tulisan yang saya rasa agak janggal yang saya baca minggu kemarin. Kebetulan dua minggu kemaren saya sering pulang pergi pekanbaru – bengkalis menggunakan speed boath. Kebetulan didepan kursi saya terdapat stiker yang bunyinya kurang lebih seperti ini:

Stop HIV/AIDS dengan:
A = Abstinensia atau tak melakukan hubungan seks
B = Be faithful atau saling setia,
C = Condom atau mencegah dengan kondom, dan
D = Drugs atau jangan memakai narkoba.

Awalnya sih agak kaget dan pengen tertawa karena saat membaca ABCD saya teringat dengan istilah anak-anak sekarang (Aduh Bo’ Cape Dech). Tapi karena posisi stiker itu tepat didepan saya jadi terpaksa tanpa sadar tulisan itu sering terbaca oleh saya. Setelah sampai hotel saya semakin terngiang dan rasa penasaran saya dengan tulisan tersebut karena kata-katanya yang janggal menurut saya. Sekilas tulisan tersebut biasa saja dan benar adanya. Bagaimana tidak bila kita tak melakukan hubungan seks atau saling setia dengan pasangan kita atau memakai Condom atau mencegah dengan kondom dan tidak memakai narkoba kita akan relatif jauh dari resiko terjangkit virus HIV/AIDS. Tapi bukan itu intinya karena bagi orang awam mungkinkah hal tersebut dapat dilakukan semua. Bagaimana tidak melakukan hubungan seks bila kita sudah berkeluarga? Terus apakah menjamin kalo kita tidak memakai narkoba akan terbebas dari HIV/AIDS? Padahal penularan HIV/AIDS pada pemakai narkoba itu dari penggunaan jarum suntik yang bergantian dengan sesama pemakai yang sudah terkena HIV/AIDS. Disitulah letak kejanggalan tulisan tersebut.




Karena rasa penasaran saya tersebut kemudian saya mencoba browsing di internet mengenai tulisan tersebut untuk mencari penjelasan yang lebih masuk akal bag saya. Kemudian saya langsung aja nanya ma mbah paman google dengan mengetik “ABCD stop HIV/AIDS”, tanpa ku duga terdapat 22.900 web yang menyedakan bahasan tersebut membuat saya semakin penasaran dan merasa bodoh karena baru tau hal itu. Mulai kubuka satu persatu web yang masuk top 10 dari paman google dan sampailah pada penjelasan yang agak masuk akal bagi saya tentang tulsan di atas. Penjelasannya kurang lebh seperti ini:

“ABCD: Abstain from sex bagi remaja dan belum menikah, Be faithful : setia terhadap pasangan, Condom : selalu menggunakan kondom, dan Don't use a hypodermic needle : tidak menggunakan alat suntik bekas pengidap HIV/AIDS.”

Setelah saya mendapatkan penjelasan diatas yang menurut saya masuk akal dan mudah diaplkaskan dalam kehidupan sehari-hari bukannya membuat saya jadi puas tapi malah semakin penasaran lagi. Kenapa? Sebenarnya yang membuat saya penasaran adalah penjelasan itu saya peroleh dari internet. Bayangkan kebingungan ini terjadi pada orang-orang yang tidak buka nternet karena tidak pernah atau yang tidak sempat. Hal ini bisa membuat pemahaman tentang penanggulangan HIV/AIDS jadi salah dan jeleknya lagi akan muncul golongan orang yang tidak mau menikah karena takut bisa tertular HIV/AIDS.

Tidak hanya sampai disini rasa penasaran saya terhadap stiker di speed boath yang aku lihat tersebut di atas. Coba kita lihat sekali stiker tersebut :

Stop HIV/AIDS dengan:
A = Abstinensia atau tak melakukan hubungan seks
B = Be faithful atau saling setia,
C = Condom atau mencegah dengan kondom, dan
D = Drugs atau jangan memakai narkoba.

Dari tulisan kita bisa mengambil pokok permasalah dari penyebaran virus HIV/AIDS, yaitu Perilaku seks bebas, tidak setia dengan pasangan serta penggunaan narkoba. Menurut saya anjuran ataupun petunjuk dalam stiker tersebut tidak akan mungkin bisa mengurangi ataupun mencegah penyebaran virus HIV/AIDS secara singnfikan. Jadi menurut saya iklan yang terdapat pada stiker di atas belum tepat sasaran karena masih tingginya pertumbuhan virus HIV/AIDS di indonesia. Seharusnya kita bersama termasuk pemerintah sebagai otoritas tertinggi negara, LSM sebagai organsasi yang berhubungan langsung di lapangan serta masayarakat pada khususnya sebagai target harus mencari akar permasalahan penyebaran virus tersebut. Kalo kita kaji ulang penyebabnya kita harusnya mencari akar dari penyebaran virus tersebut. Bukannya menghentikan ditengah jalan melainkan melainkan mencegah virus itu berjalan.

Saya mencoba memberikan analogi sebagai berikut ”Seseorang mencoba mengurangi angin pada sebuah bola disaat bola itu sedang berputar kencang” mestinya bola itu dkurangi anginnya saat bola tersebut belum ditendang. Atau “ seorang kiper berusaha menggagalkan sebuah tendangan penalti” mestinya tidak melakukan suatu pelanggaran yang bisa menyebabkan penalti karena sedikit sekali peluang usaha tersebut akan berhasil. Hal ini pula berlaku pada stiker diatas. Stiker di atas bila diartikan secara keseluruhan artinya kurang lebih sebagai berikut:

HIV/AIDS dapat dicegah dengan
- tidak melakukan perilaku seks bebas, bersikap setia pada pasangan. Tapi jika tidak mampu melakukannya gunakanlah kondom
- Jangan menggunakan narkoba jens suntik secara bergantian dengan penderita HIV/AIDS.

Dari arti diatas terdapat celah dan kesempatan untuk menyebarnya virus HIV/AIDS, seharusnya celah itu ditiadakan. Sehingga virus itu benar-benar tidak sempat atau jalan untuk menyebar dan bla itu bisa dilakukan pada periode tertentu vrus itu akan hilang dengan sendirinya.

Secara teori negara Indonesia adalah merupakan negara yang berdasarkan agama yang tertulis pada sila pertama Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dan saya yakin setiap agama melarang perilaku-perilaku yang dapat menyebarkan virus HIV/AIDS di atas. Mestinya negara yang berketuhanan memiliki cara yang lebih baik dan efektif dalam usaha mencegah penyebaran virus HIV/AIDS. Apakah cara tersebut? Mestinya negara kita tidak mengadopsi mentah-mentah stker diatas misalkan menambahkan unsur keagamaan yiatu:

“ Stop HIV/AIDS dengan Iman dan Tagwa ”
Diatas merupakan salah satu contoh saja karena menurut saya iklan pada pada stiker yang saya lihat pertama kali terkesan sekuler yang tidak mengindahkan unsur religius yang terbukti tidak berpengaruh besar pada usaha pencegahan virus HIV/AIDS.
Indonesia sebagai negara yang berketuhanan mestinya punya cara sendiri yang lebih efektif dan bisa dipakai contoh untuk negara lain bukannya mengadopsi mentah-mentah sebuah program yang bagi negara pembuatnya gagal dan tidak tepat sasaran.



Lanjutkan......