Massulist (7 januari 09),
Hingga hari ke sebelas sejak 27 desember 2008 invasi israel ke Gaza telah mengakibatkan korban jiwa yang tidak sedikit. Tragedi kemanusiaan yang memalukan itu setidaknya telah memakan korban sedikitnya 660 warga Palestina, termasuk 215 anak-anak dan 98 perempuan serta 2950 terluka dan jumlah itu masih akan bertambah lagi karena sampai detik ini agresi militer israel masih berlangsung. Dari pihak israel juga tidak kalah walau jauh lebih sedikit korban namun tidak kurang 7 orang serdadu israel dan 3 warga sipil meninggal. Entah sampai kapan agresi militer tersebut akan berhenti, karena PBB sendiri sebagai dewan keamanan dunia tidak mampu berbuat apa-apa pada kejadian ini.
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa agresi ini dilakukan pada tanggal 27 desember 2008 dan karena alasan apa?
Hingga hari ke sebelas sejak 27 desember 2008 invasi israel ke Gaza telah mengakibatkan korban jiwa yang tidak sedikit. Tragedi kemanusiaan yang memalukan itu setidaknya telah memakan korban sedikitnya 660 warga Palestina, termasuk 215 anak-anak dan 98 perempuan serta 2950 terluka dan jumlah itu masih akan bertambah lagi karena sampai detik ini agresi militer israel masih berlangsung. Dari pihak israel juga tidak kalah walau jauh lebih sedikit korban namun tidak kurang 7 orang serdadu israel dan 3 warga sipil meninggal. Entah sampai kapan agresi militer tersebut akan berhenti, karena PBB sendiri sebagai dewan keamanan dunia tidak mampu berbuat apa-apa pada kejadian ini.
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa agresi ini dilakukan pada tanggal 27 desember 2008 dan karena alasan apa?
Agresi ini dilakukan menjelang tahun baru islam karena hal itu merupakan kebiasaan bangsa yahudi yang sangat mengagungkan simbol-simbol tertentu.
Namun apa alasannya sedangkan konflik mereka sudah berlangsung sangat lama, jadi tidak mungkin agresi tersebut dilakukan karena alasan klasik mereka baik itu masalah keyakinan antara bangsa Arab dan bangsa yahudi. Alasan perebutan wilayah juga bisa menjadi pertimbangan, tapi hal itu sebenarnya sudah masalah yang basi kalo hanya untuk dijadikan alasan agresi kali ini karena masalah wilayah israel tidak hanya dengan Palestina namun dengan negara-negara sekitar yang wilayahnya telah dicaplok israel. Dan alasan selanjutnya adalah alasan ekonomi.
Alasan ekonomi mau tidak mau harus dimunculkan sebagai alasan yang melatar belakangi agresi militer israel yang mereka lancarkan sejak 27 desember 2008 yang lalu.
Resesi ekonomi global yang mengguncang dunia saat ini telah membuat rontoknya perekonomian dunia dan memukul semua sendi-sendi perekonomian yang ada di seluruh dunia yang telah membuktikan rapuhnya sistem ekonomi kapitalis dimuka bumi ini. Krisis inilah yang telah mengakibatkan bangkrutnya lembaga keuangan terbesar di dunia “Lehman Brothers” dan ratusan ribu perusahaan lainnya didunia. Bahkan akhirnya pemerintah amerika harus menggelontorkan stimulus tahap I sebesar USD700 miliar dan akan bertambah lagi untuk menyelamatkan perusahaan-perusahaan amerika dari jurang kebangkrutan. Hingga belakangan negara-negara lain di dunia melakukan hal serupa mulai dari jepang sebesar USD275 miliar, cina USD586 miliar, anggota Uni eropa hingga pemerintah indonesiapun rencananya akan melakukan hal serupa.
Krisis ekonomi ini juga yang telah menjadikan Bernard Madoff (Bernie) yang merupakan pemilik dari Madoff Investment Securities LLC semacam manajer investasi yang sebelum krisis telah dianggap sebagai santaklaus oleh banyak orang karena telah memberikan bunga investasi sebesar 13.5% per tahun bandingkan saja dengan bunga deposito di AS saat itu hanya sekitar 2–3 % per tahun sebagai salah satu orang yang paling dibenci didunia saat ini terutama oleh kaum yahudi karena dianggap paling bertanggungjawab karena di tangan satu orang Bernie ini telah hilang uang USD 50 miliar atau sekitar Rp 600 triliun. Uang itu milik ribuan orang dan lembaga keuangan. Mulai bank sebesar HSBC sampai uang milik yayasan-yayasan sosial. Dari ribuan nasabahnya bernie ini sebagian besar bahkan mayoritas berasal dari kalangan yahudi yang diketahui memiliki persatuan yang sangat kuat terhadap kaum yahudi sendiri karena notabene bernie sendiri adalah orang yahudi. sehingga uang investasi kaum yahudi yang hilang akibat krisis keuangan global ini sangat besar, tepatnya sangat-sangat besar. Sebagai contoh Sebuah rumah sakit Yahudi di New York, Long Island Jewish Medical Centre, telah kehilangan uang USD 110 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun. Meski itu hanya 10 persen dari dana yang dimiliki yayasan tersebut, kehilangan Rp 1,4 triliun cukup menghebohkan. Yayasan kesehatan Yahudi lainnya kehilangan dana Rp 60 miliar. Yayasan Federasi Yahudi Washington kehilangan Rp 120-an miliar. Bahkan sutradara film terkemuka Steven Spielberg yang kebetulan juga seorang Yahudi yang juga punya yayasan termasuk yang menempatkan uangnya di sana. Jadi hilangnya uang kaum yahudi akibat krisis ini sangatlah besar. Sebagai ilustrasi yang menggambarkan bahwa krisis ekonomi dunia ini telah benar-benar menghancurkan sendi-sendi perekonomian bangsa yahudi adalah masuknya topik tentang kerugian yang diakibatkan oleh perusahaan bernie ke ranah keagamaan kaum bangsa yahudi. Hampir disetiap kutbah yang seharusnya berisikan masalah-masalah keagamaan tetapi berubah menjadi kutbah yang mengutuk bernie yang mereka anggap telah menipu mereka atas kehilangan uang mereka. Padahal bila kita fikir secara logika bahwa setiap orang berani melakukan investasi berarti mereka telah mempertimbangkan resiko yang akan dihadapi. Bukannya bangsa yahudi tidak mengetahui hal tersebut, namun mereka tetap saja mengutuk bernie karena mereka sudah tidak menemukan alasan yang tepat atas kehilangan uang mereka sehingga mereka menumpahkan semua kekesalan dan kemarahan mereka kepada bernie.
Krisis ekonomi kali ini yang konon terbesar pada abad modern ini yang telah menyebabkan bangkrutnya ribuan perusahaan baik besar maupun kecil di muka bumi yang pasti akan mengakibatkan kenaikan angka pengangguran yang sangat besar. Sebagai contoh dapat dilihat di negara sebesar amerika saja pada bulan september 2009 data penduduk penerima kupon makan mencapai 31.5 juta jiwa. Jumlah itu meningkat 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sampai-sampai, kata Jean Daniel dari USDA's Food and Nutrition Service, jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan saat Amerika dihantam badai Katrina, Rita, dan Wilma pada 2005. Angka itu sama dengan yang terjadi pada awal dekade 1980-an. Siapapun pasti tau disaat pengangguran yang sangat tinggi seperti ini tingkat daya beli dan tingkat konsumsi masyarakat akan menurun drastis. Ya jelas saja lawong untuk makan aja sudah sulit apalagi untuk pemenuhan kebutuhan lainnya.
Lain hal untuk perusahaan yang belum mengalami kebangkrutan atau sedang menuju kebangkrutan pasti akan berusaha untuk melakukan segala upaya untuk bertahan hidup. Misalnya melakukan pemotongan gaji ataupun menghentikan produksi sampai kondisi membaik dan berusaha menghabiskan stok digudang dengan cara menjual produk-produk mereka dengan harga murah, walaupun hal tersebut tidak akan dapat meningkatkan daya beli secara signifikan karena pada dasarnya masyarakat memang sudah tidak mampu untuk membeli.
Hal ini juga berlaku bagi israel. Sejak berdiri pada 14 mei 1948 perekonomian Israel telah mengalami transformasi dari ekonomi pertanian menjadi perekonomian industri dengan kekuatan hi-tech. Ekspansi cepatnya pertumbuhan ekonomi Israel selama lima belas tahun terakhir telah membawa Israel ke garis depan inovasi hi-tech, dan saat ini Israel diakui seluruh dunia sebagai salah satu pusat teknologi yang paling penting di dunia.
Dimotori oleh ekspor hi-tech yang bertumbuh dari 2 miliar dollar di tahun 1992 menjadi 11.5 miliar dollar di tahun 2004, dekade ini telah terbukti pertumbuhan yang sangat dramatis di sektor ekspor dengan tercapainya 26 milliar dollar di tahun 2005. Industri hi-tech sekarang mencapai 15% GDP, naik 5% dari dekade yang lalu.
Karena ekonomi yang menopang israel adalah bidang industri maka akibat krisis ekonomi yang terjadi sekarang ini memberi pukulan yang sangat telak terhadap israel dan bila hal ini berlangsung lama itu berarti israel sedang berada diambang kebangkrutan. Bayangkan saja bila perusahan keuangan mereka bangkrut, industri mereka tidak mampu menjual karena daya beli konsumen yang jauh menurun yang diakibatkan krisis mengakibatkan masyarakat tidak mampu untuk membeli produk-produk hi tech yang merupakan produk andalan mereka. Jadi mereka harus cepat memutar otak agar negara israel pada khususnya dan bangsa yahudi pada umumnya tidak mengalami kebangkrutan dan akhirnya hilang kembali karena sebelum 14 mei 1948 negara israel juga tidak pernah ada.
Mereka harus menentukan langkah untuk menghindar dari jurang kebangkrutan. Dari semua langkah untuk tetap menghidupkan industri mereka, mereka masih belum mendapatkan hasil yang maksimal.
Dalam kondisi perekonomian yang seperti ini industri hi tech tentu saja tidak dapat diandalkan karena faktor lemahnya daya beli masyarakat, sehingga sebagai negara industri israel harus menetapkan prioritas sektor industri apa yang harus diberi stimulus. Akhirnya pilihan mereka jatuh pada industri pertahanan mereka untuk mengatasi krisis ini, dengan pertimbangan konsumen dari produk militer adalah sebuah negara bukan masyarakat yang terkena langsung dampak krisis ekonomi global ini. Namun yang kemudian menjadi pertanyaan adalah siapa yang akan membeli produk militer mereka, karena sekarang ini yang aktif dalam dunia militer adalah negara-negara besar termasuk rusia, uni eropa dan amerika yang notabene mereka bisa memproduksi peralatan militer sendiri. Apalagi negara-negara berkembang yang pasti akan mengencangkan ikat pinggang terhadap anggaran militer mereka. Dengan kondisi tersebut pemerintah israel sendirilah yang harus membeli produk mereka. Namun bila pemerintah israel sendiri yang akan membeli akan muncul pertanyaan untuk apakah senjata-senjata tersebut dibeli karena tidak mungkin senjata tersebut dibeli hanya untuk disimpan di dalam gudang, jadi harus digunakan. Pemerintah israel harus menetapkan pilihan penggunaan senjata-senjata tersebut.
Pada dasarnya sejak jaman dahulu sampai sekarang israel memang memiliki musuh abadi di wilayah arab, namun dewasa ini yang aktif melakukan perseteruan dengan negara israel adalah Syiria, Jordania, Mesir, Palestina khususnya Hamas, irak serta akhir-ahir ini yang paling mengancam adalah Iran. Pemerintah israel harus menetapkan pilihan.
Dari semua negara tersebut diatas yang paling lemah adalah Palestina (Hamas) yang dari segi apapun baik ekonomi maupun persenjataan yang diatas kertas pasti akan mudah ditaklukkan, dan hamas pula yang secara kontinyu melakukan kontak senjata dengan mereka dibanding negara lainnya, sehingga ditetapkanlah gaza sebagai target invasi israel kali ini, karena di gaza lah merupakan basis perlawanan Hamas. Tapi tindakan tersebut bukan tanpa resiko, karena akhir-akhir ini dunia sedang gencar-gencarnya memperhatikan agresi militer yang dilakukan oleh amerika di irak dan afganistan yang dianggap telah melakukan kejahatan perang karena telah melakukan agresi militer tanpa alasan yang jelas. Tapi hal itu tidak menjadi alasan untuk membatalkan rencana agresi tersebut karena dunia pun tahu bahwa amerika akan selalu berada dibelakang dan mendukung israel terhadap semua pertikaian israel dengan bangsa arab. Di bawah dukungan negara adidaya tersebut dunia bahkan PBB tidak akan mampu untuk memberi sangsi apapun kepada israel dalam invasi tersebut, karena sebagai sekutu amerika pasti akan memveto semua resolusi yang merugikan israel.
Dengan pertimbangan diatas akhirnya pada 27 desember 2008 israel melakukan invasi tersebut dan terbukti sampai sekarang PBB tidak menghasilkan resolusi apa-apa terhadap tindakan biadab israel terhadap palestina tersebut.
Mungkin sekilas alasan diatas adalah hal yang mengada-ada bahkan terkesan terlalu dibesar-besarkan. Tapi kita harus lihat kembali apa keuntungan israel dalam agresi militer ke Gaza saat ini. Dari agresi ini israel mendapat keuntungan yang banyak yaitu kembali hidupnya roda perekonomian israel melalui hidupnya industri militer disaat industri lain yang menopang perekonomian israel tidak biasa diandalkan disaat belum pulihnya perekonomian dunia. Kemudian dengan agresi ini topik pembicaraan warga israel akan terfokus pada perkembangan agresi ini sehingga masyarakat akan lupa pada krisis ekonomi dan ancaman kebangkrutan negara israel. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah dengan agresi ini kekuatan Hamas diharapkan akan hancur dan hilang atau setidaknya akan jauh berkurang yang nantinya yang ada adalah negara palestina yang tidak punya kekuatan perlawanan sehingga israel bisa mengendalikan palestina dengan mudah. Sedangkan bila agresi militer ini berhasil bukan tidak mungkin Gaza akan kembali ke dalam kekuasaan mereka.
Jadi agresi israel ke Gaza ini tidak boleh dikesampingkan PBB harus segera memutuskan resolusi yang tepat bagi israel, karena dengan alasan dan keuntungan diatas agresi semacam ini bukan tidak akan terjadi lagi terhadap negara-negara lain dan bukan tidak mungkin terjadi pada Negara Indonesia yang kita cintai ini.



No comments:
Post a Comment